Kamis pagi adalah jawdal olah raga untuk kelasku, tetapi karena kondisi akhir-akhir ini hujan maka mata pelajaran itu dianggap tidak ada dalam kegiatan belajar dan mengajar. Hari ini terlihat cukup cerah, ada kemungkinan bahwa har ini pelajaran olah raga yang sudah tiga minggu tidak berlangsung akan berjalan lagi.
Setelah selesai menikmati sandwich buatan Aerish, aku mengucapkan terima kasih kepadanya, kucubit pelan pipi kirinya dengan, ia meresponnya dengan senyuman, dan wajahnya yang langsung merah padam. Seandainya aku tidak pernah mencintai Cauthelia dan Nadine, maka ini pasti akan menjadi momen yang sangat indah bersama Aerish.
Setelah itu aku hanya bermain dengan ponselku, bahkan tidak ada SMS ataupun telepon dari Cauthelia, mungkin ia sedang sibuk, ujarku mencoba menghibur diri. Dan tanpa terasa, jam tanda pelajaran berlangsung pun berbunyi, karena hari ini cerah, maka kami akhirnya keluar dari kelas dan melakukan mata pelajaran olah raga.
Selama pelajaran berlangsung, tidak henti-hentinya kupandangi Nadine yang ia juga memandangku. Entahlah, tetapi aku benar-benar jatuh hati kepada gadis itu. Hari ini berlangsung biasa saja tidak ada yang menarik, hingga tidak terasa akhir pelajaran hari ini selesai. Setelah berpamitan kepada Aerish dan Nadine, aku langsung menuju ke lahan parkir dan segera pulang ke rumah.
Saat tiba di rumah, aku mencoba menghubungi Cauthelia, aku telepon dia berkali-kali, ia tidak mengangkatnya, dan saat aku mengirimkan SMS, ia juga tidak membalasnya. Kemana gadis itu? Tanyaku di dalam hati, aku mulai khawatir mengenai gadis itu terlebih ketika aku mengetahui perangai Rahmat. Bahkan ia tidak online Yahoo! Messenger, karena biasanya ia online 24/7 pada akun itu. Aku pun tertidur dengan banyak pikiran yang mengangguku, apa kabarnya dirimu di sana, Elya.
Esok hari tiba, dan aku memulai hari ini dengan tanpa ada hal yang menarik, hanya ke sekolah, belajar, berbincang dengan Aerish, makan siang bekal milik Nadine, hingga saat aku pulang, tidak ada hal yang spesial. Berulang kali aku memeriksa ponselku, tidak ada SMS atau telepon yang masuk dari Cauthelia, hingga aku harus pulang sekolah tanpa ada hal yang berarti hari ini.
Sesampainya di rumah, hanya Cauthelia yang kupikirkan, kemana gadis itu? Ia tiba-tiba menghilang dan tidak ada kabar darinya hingga kini. Hatiku mulai gusar, apa yang terjadi dengannya? Apakah ia baik-baik saja? Hatiku terus bertanya-tanya. Pikiranku mulai berpikir yang buruk, terlebih dengan adanya Rahmat di sana. Aku bahkan meneteskan air mataku saat tidak mengetahui kemana gadis itu pergi.
Aku coba untuk mengalihkan pandanganku, kubuka file dan foto yang ia berikan kepadaku waktu itu. Tidak ada hasrat apapun saat melihat tubuhnya di foto dan video yang ia berikan itu, setidaknya ada kerinduan yang terbayar meskipun hanya sedikit, sedikit rasa kantukku, dan aku pun mencoba untuk memejamkan mata malam ini.
Pagi hari tiba, tidak ada yang spesial di hari ini, berharap ada suara seseorang yang biasanya memberikanku kejutan, entah Nadine atau Cauthelia, tetapi saat aku turun ke bawah, tidak ada apapun di sana. Tidak ada seorangpun, Nadine, Cauthelia, ataupun Aerish, dan aku harus menerima kenyataan, aku adalah pelajar kelas XII SMA yang belum memiliki seorang Istri. Sudahlah, ujarku lalu menuju garasi dan langsung menuju ke 750iL milik ayahku yang akan kugunakan untuk berlomba dengan Dika nanti malam.
Kuperiksa apa yang ada di bawah kap mesin, M73 ini masih terlihat sangat bersih untuk mobil berusia 6 tahun ini. Lalu aku masuk ke dalam kabin dan menyalakan mesinnya, memeriksa apakah ada yang aneh dengan suara mesin, dan hasilnya suara mesin dalam kondisi baik. Aku lalu memeriksa empat ban Continental yang terpasang di roda dengan rim 18” ini, karena baru diganti enam bulan yang lalu, maka ban mobil ini masih dalam kondisi sangat baik.
Pagi sampai siang ini, aku hanya sendiri di dalam rumah, Nadine, Aerish, Cauthelia, ketiga gadis itu seakan kompak tidak ingin berbicara denganku. Baiklah, aku kembali ke rutinitas lama, yaitu bermain game, sepertinya sangat bagus untuk menghabiskan waktu di hari yang cukup cerah ini.
Sore hari tiba, ya aku pun segera bersiap menerima tantangan Dika untuk berlomba dari Semanggi ke Pasteur, entah bagaimana mekanismenya, tetapi aku menerimanya. Setelah aku mengisi penuh RON95 di E38 milik ayahku, aku segera menuju ke Blok M untuk menunggu lawanku, dan tanpa seorangpun yang ada di sebelahku saat ini. Tidak lama kemudian ponselku berbunyi, nomor asing, ujarku, tetapi aku mengangkatnya.
Okay, ujarku dalam hati dan aku langsung berjalan menuju Plaza Semanggi, sesuai dengan permintaannya. Setibanya di sana, aku melihatnya memarkir BMW E90 miliknya di samping pintu masuk Plaza Semanggi. Aku berhenti di belakangnya, tetapi ia tidak mengenaliku.
BMW E90 320i menggunakan mesin N46B20 Inline 4, teknologi yang diusung sama lawasnya seperti mesin mobil yang kubawa kini, tidak ada VANOS, tidak ada Valvetronic, dan tidak ada Direct Injection. Hanya menghasilkan 168 hp, sementara mobil yang kubawa memiliki tenaga 322 hp, hampir dua kali lipat tenaga dari mobil yang ia gunakan.
Tidak lama berselang kulihat ada mobil berhenti lagi di belakangku, itu adalah mobilnya Nadine, aku lalu langsung turun dan menghampiri mobil Nadine. Seketika kuketuk kaca penumpangnya agar aku bisa masuk, dan setelah itu aku langsung masuk ke kursi belakang mobil tersebut, saat kumenoleh ke kiri, aku terkejut dengan apa yang ada di sana.
Saat aku turun dari mobil itu, ternyata bertepatan dengan turunnya Dika dari E90 tersebut, di dalam mobil itu sudah ada Aerish yang memandangku dengan tatapan yang sedih, entah sedih karena ada Cauthelia di sampingku, atau karena ia sedang berada bersama Dika, atau keduanya, aku juga tidak mengerti.
Aku menyalakan mesin mobil tersebut, dan tidak lama kemudian, Nadine datang dan duduk di kursi belakang mobil ini. Sementara Jazz-nya ditinggal begitu saja di sana, katanya Kakaknya akan mengambilnya nanti. Di satu sisi, aku sangat takut apabila aku kalah, maka Cauthelia harus menepati janjinya, di satu sisi, aku senang karena gadis yang kucintai tiba-tiba datang di sebelahku saat ini.
Aku mengaktifkan S-EDC dan juga mengubah mode transmisi ke Manumatic dan Sport, tidak lama kemudian tulisan S dan juga 1 muncul di Instrument Cluster mobil ini. Tinggi kemudi pun semakin rendah, ini menandakan bahwa S-EDC sudah aktif dan chamber pada mobil ini sudah bertambah lebar sudutnya.
Tanpa ada aba-aba, Dika langsung melesat di depanku, berharap dengan keunggulan beberapa detik bisa membawanya lebih cepat menuju Pasteur. Aku memandang ke arah Cauthelia dan Nadine, setelah itu aku menekan pedal gas perlahan dan mobil ini melesat dan dengan cepat mengejar E90 milik Dika yang tadi sudah berada di depan.
Aku percaya kemampuan mobil ini, karena mesin V12 5,400cc SOHC di dalamnya sudah terbukti tangguh melibas jalan raya dengan kecepatan 200 Kmh lebih. Dan setibanya di Gerbang Tol Semanggi 2, aku tidak mengambil gerbang tol lainnya melainkan tetap berada di belakang mobil itu.
Race begin here, itu kataku di dalam hati, dengan alunan musik dari 6 CD Changer yang terletak di bagian bagasi mobil, Cauthelia mulai memilih lagu Dream Theater yang menurutnya cocok untuk perlombaan kali ini, diambil dari Album Train of Thought, ia memilih This Dying Soul yang memiliki beat cukup tinggi di intronya.
Comments (0)