Part. 41
Kompleks Makam Tua
Kompleks Makam Tua
"Irama detak jantungku berdegub kencang tak beraturan. Nafasku memburu cepat seperti sedang dikejar setan. Dengan sekuat tenaga, aku memaksa kakiku untuk segera berlari meninggalkan mahluk yang terus menerus menangis menyayat hati. Namun tubuhku seperti tidak memiliki kekuatan! Kakiku terasa berat, terpaku tak bisa ku gerakkan. Kini aku hanya bisa berdiri terdiam mematung. Meringis, meratapi nasibku yang sedang diteror ketakutan.
Suasana semakin mencekam, terdengar derap langkah kaki bergerak cepat disertai nafas berat memenuhi seluruh penjuru lorong hotel. Suaranya menuju ke arahku yang tengah menggigil ketakutan.
"Ya Allah, kali ini mahluk apa lagi yang akan berhadapan denganku?"
Saat itu aku sudah pasrah. Entah mahluk apa yang akan menunjukkan eksistensinya padaku. Jika memang aku harus pingsan di lorong yang sepi ini, ya sudahlah..
Kerongkonganku tercekat, sakit sekali. Di tengah keputusasaan, aku mendengar suara seseorang menegurku.
"Malam bu..!" Suara berat seorang pria menyapaku.
Dengan memberanikan diri, aku memalingkan wajahku ke arah datangnya suara itu. Aku menatap dengan pandangan tak percaya dari ujung kaki sampai ke ujung kepala pria di hadapanku. Saat ini aku tengah berhadapan dengan seorang pegawai hotel yang sedang tersenyum ramah. Tatapan matanya begitu hangat. Rasa takutku seketika itu juga hilang sirna.
Aku tersenyum kaku.
"Ma-malam mas" jawabku terbata-bata.
"Maaf bu, apa ada yang bisa saya bantu?" Tanyanya sopan.
"Eh.. ng-nggak mas. Terima kasih" sahutku sambil melirik sekilas ke arah tempat kunti berdiri. Namun mahluk itu tampaknya sudah pergi. Aku mengucap syukur dalam hati. Sepertinya ia hanya ingin menampakkan wujudnya kepadaku.
"Maaf, kalau saya boleh tahu, ibu menginap di kamar berapa?"
Aku terdiam dan berpikir sejenak.
"Saya tamu dari room 104" jawabku dengan nafas tak beraturan.
"Oh.. baiklah kalau begitu. Saya takutnya ibu sedang kesasar. Karena saya perhatikan dari kejauhan, ibu tampak seperti orang yang lagi bingung" tatapnya penuh perhatian.
"Eh, ng-ngak mas. Saya tidak apa-apa kok" jawabku menutupi kegelisahan hati.
"Kalau saya boleh memberi saran, sebaiknya malam-malam begini ibu tidak berjalan sendirian di lorong hotel"
Ke dua alisku bertaut mendengar nasehat dari pegawai hotel.
"Maaf, memangnya kenapa ya mas?"
Sekali lagi, ia tersenyum ramah ke arahku.
"Ya tidak apa-apa bu. Saya cuma khawatir kalau ada tamu yang tersesat." Ucapnya berusaha menyembunyikan sesuatu.
Aku menelan ludah. Berusaha mencerna ucapan pria yang sedang berdiri berhadapan denganku.
"Baik bu. Kalau tidak ada yang perlu dibantu, saya permisi dulu. Selamat malam!" Ujarnya seraya menundukkan sedikit kepalanya.
"I-iya mas. Malam" sahutku tergagap.
Ku lihat, pegawai hotel itu berjalan ke arah lorong tempat dimana kunti dan bayangan hitam itu berdiri. Tubuhnya yang tegap dan gagah perlahan menghilang di telan kegelapan koridor hotel.
Aku terpekik kaget dengan penglihatanku. Aku mengucek kedua mataku, berusaha memastikan kalau aku sedang tidak salah lihat.
"Ke-kemana perginya pegawai hotel tersebut? Tidak mungkin dia menghilang begitu saja?" Pikirku dengan derai nafas menderu.
"Jangan-jangan staff yang baru saja mengajakku berbicara merupakan perwujudan dari mahluk halus?" Badanku mulai merinding ketakutan.
Tanpa berpikir panjang, aku segera membalik badanku dan berlari menuju ke kamar.
"Ya Allah tolong jangan sampai aku melhat penampakan lagi" Doaku sambil terus berlari secepat kilat.
Dengan terengah-engah, akhirnya aku tiba juga di depan kamar tempatku bermalam. Aku segera mengetuk pintu, berharap agar suamiku segera membukakannya.
Tanpa menunggu lama, pintu kamar terbuka lebar. Di ambang pintu tampak suamiku tertegun menatap ke arahku.
"Kamu kenapa Ma? Wajahmu kok terlihat pucat pasi begitu?" Tanya mas dengan tatapan keheranan.
"Aku nggak apa-apa kok mas!" Sahutku sambil menundukkan wajah dan melangkah masuk ke kamar.
Begitu memasuki ruangan, yang kutuju pertama kali adalah kamar mandi. Aku segera membersihkan diriku dan menatap wajahku di cermin lekat-lekat. "Ya Allah, apa tadi aku sedang bermimpi? Atau semua ini hanya imajinasiku saja?" Aku tertegun, berusaha mencerna semua kejadian yang sudah menimpaku.
Setelah merasa lebih tenang, aku segera kembali ke kamar. Ku lihat suamiku sudah tertidur dan Gendis tampak begitu lelap dengan mimpi indahnya. Sesekali putriku tampak menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Aku menghampiri ranjang dan duduk di sampingnya. Jemariku menyibak poni yang menutupi kelopak matanya dan kucium lembut keningnya penuh kasih "Selamat malam Ndis, tidur yang nyenyak ya sayang. Gendis selalu dijaga Allah dan malaikat-Nya" bisikku lirih.
Aku lantas merebahkan diri di samping putriku dan berusaha memejamkan mataku rapat-rapat. Mencoba melupakan semua teror ketakutan yang menghantuiku malam ini.
***
Sinar mentari mengintip menembus tirai jendela kamar hotel yang tak tertutup sempurna. Aku membuka mata saat sinarnya menggelitik kelopak mataku.
"Hooamm" aku mengusap kedua mata dengan tanganku sambil menguap.
Tubuhku masih terasa letih dan mataku masih ingin terus terpejam. Aku melirik ke samping, putriku masih terlelap. Begitu juga suamiku, ia masih terbuai dalam mimpinya. Aku bersyukur setelah peristiwa yang menimpaku semalam, aku dan putriku masih bisa tertidur pulas tanpa ada gangguan sama sekali. Ku pikir, di penghujung malam akan terjadi uji nyali buat anakku. Namun ternyata perkiraanku salah. Sampai hari menjelang pagi, Gendis tetap tidur dengan nyenyak.
Bunyi dering telepon mengagetkanku yang sedang mengamati wajah damai putriku.
"Ibu Dwi" gumamku sambil menatap nama yang tertera di layar ponsel.
Aku segera mengangkat ponsel agar nada deringnya tidak membangunkan anakku.
"Ya ma?" Sahutku malas-malasan.
"Buruan bangun! Sudah pagi! Ayo sarapan terus berangkat lagi!" Suara Ibu Dwi yang bawel terngiang-ngiang di telinga.
"Baik ma. Tapi Ima bangunin mas dan Gendis dulu. Nanti kita langsung ketemu di restoran saja."
"Ya sudah!! BURUAN!!" Bentaknya sambil mengakhiri panggilan.
Dengan tak bersemangat, aku segera membangunkan suami dan putriku agar segera membersihkan tubuh mereka dan segera sarapan di restoran.
Setelah menyegarkan tubuh dengan air hangat, kami bergegas menuju ke restoran yang terletak di dekat lobi hotel. Jangan sampai ibu Dwi menunggu terlalu lama! Bisa-bisa aku kena semprot lagi oleh bibirnya yang tipis dan ucapannya yang tajam seperti silet!
Pagi ini suasana di hotel masih tampak seperti kemarin malam. Sepi!! Padahal kalau di hotel lain, jam breakfast akan dipenuhi tamu yang lalu lalang bersiap mengisi perut mereka. Namun saat ini, tak ada satupun tamu yang berpapasan denganku. Memasuki lobi, ujung mataku melihat keluarga Dwi sudah berada di restoran dan menyantap sarapan mereka dengan lahap. Ada pemandangan aneh yang tertangkap netraku. Di restoran hanya terdapat keluargaku! Lantas dimana tamu yang lain? Bukannya pihak hotel bilang kalau semua kamar penuh?
Tante melihat dan melambaikan tangan ke arahku, dengan tujuan agar kami duduk semeja dengan mereka. Aku pun segera berjalan menghampiri meja dan mengambil kursi di sebelah Dwi sambil memangku putriku. Sedangkan mas langsung mengambilkan sarapan untuk aku dan dirinya. Baru saja aku mendudukan tubuhku di kursi resto, dengan mulut penuh makanan, Dwi langsung bercerita dengan penuh semangat empat lima.
"Mbaaaa...! Untung saja kita cuma menginap semalam disini" ujarnya dengan wajah tegang.
"Memangnya kenapa Wi?" Tanyaku sambil melirik ke arahnya.
"Tau nggak mba? Semalam itu sekitar pukul satu malam, terdengar suara tokek kencang bangeeett!! Aku sampai nggak bisa tidur!"
"Masa sih di hotel ada suara tokek?"
"Serius mba! Kalau nggak percaya, tanya saja Ibu!!"
Dengan malas, aku melirik ke arah Ibu Dwi yang sedang meminum jus jeruk.
"Memangnya benar ma? Semalam di kamar mama terdengar suara tokek?"
"Hu-um...!" Ibu Dwi mengedipkan kedua matanya sambil memakan nasi goreng yang tersaji di hadapannya.
"Bukan cuma suara tokek yang mama dengar. Tapi ada juga suara ciapan anak ayam sekitar pukul dua malam!" Ujar Ibu Dwi dengan suara setengah berbisik.
"Haah?? Serius ma ada suara anak ayam juga?" Aku mendelik keheranan. Sebenarnya mulutku juga gatal ingin bercerita tentang peristiwa yang ku alami. Namun aku terus menutup bibirku rapat-rapat. Aku tidak mau kalau keluarga Dwi dan mas malah menyalahkanku dan bilang kalau aku halu!!
"Suara anak ayam di hotel? Memangnya di belakang hotel ada yang melihara ayam?" Tanyaku berusaha memastikan cerita ibu Dwi.
"Tadi sih om sempat bertanya ke office boy, namun kata mereka di belakang hotel tidak ada peternakan ayam sama sekali" sahut Ibu Dwi dengan mimik wajah serius.
"Mama merasa ada yang aneh tidak dengan hotel ini?" Pancingku.
"Aneh bagaimana?" Sahut tante.
"Katanya semua kamar full tapi kenapa hanya keluarga kita saja yang sarapan?"
"Bu..!! Ibu..!! Mba Ima!! Sudah ceritanya! Stop!! Stop!!" Jerit Dwi sambil menutup kedua telinganya.
"UWIIIIII.. ctoop..!! Ctoop!" (Uwi,.stop,.stop) Pekik Gendis menirukan ucapan dan sikap Dwi.
"Yeeee...!! Bocahh..!! Rese!!" Mata Dwi mendelik ke arah putriku yang sedang asik mengunyah kentang goreng kesukaannya.
"Sudah! Sudah! Jangan diteruskan lagi ceritanya!" Pinta ayah Dwi.
Mata Ibu Dwi berpendar mengamati restoran yang tampak sepi. Sepertinya beliau mulai menyadari keanehan yang terjadi.
"Semalam Gendis aman-aman sajakan? Dia tidak menangis dan menjerit?" Ayah Dwi berusaha mengalihkan perhatian.
"Alhamdulillah semalam aman saja om. Kita semua bisa tidur nyenyak ya mas?" Aku mengerlingkan mata ke arah suamiku.
"He-eh" jawab suamiku singkat.
"Gendisnya sih nyenyak om, cuma nggak tau tuh Ima. Sehabis mengantar Dwi, wajah Ima pias banget seperti mayat hidup! Sudah Dedi tanya kenapa tetapi Imanya tidak mau menjawab!"
Ayah Dwi menghentikan sarapannya. Ia memandang wajahku penuh tanda tanya. "Apa betul yang barusan mas Dedi ucapkan kalau semalam kamu tampak seperti orang ketakutan?" Ujarnya meminta penjelasan.
"Benar kok om, Ima tidak apa-apa. Mungkin semalam wajah Ima itu pucat karena kelelahan" sahutku berusaha untuk menutupi kenyataan yang sebenarnya.
Dwi menendang kakiku dengan kuat dari bawah kolong meja. Matanya melotot ke arahku. Tampaknya ia paham kalau semalam aku mengalami peristiwa yang menegangkan.
"Jangan bohong sama aku mba! Pasti kamu semalam juga dikasih penampakan! Iya kan?" Bisiknya di telingaku.
Aku terdiam dan meneruskan sarapanku. Percuma juga kalau bercerita sama Dwi. Bukannya memberi solusi, sepupuku ini pastinya langsung heboh menjerit-jerit ketakutan.
"Hey, kalau makan jangan sambil bisik-bisik!" Bentak Ibu Dwi.
Dengan bibir cemberut, Dwi melanjutkan sarapannya. Tampaknya ia belum puas jika belum mendengar ceritaku.
"Oh iya mas Dedi, habis dari sini kita akan melanjutkan perjalanan kemana lagi?"
"Kalau diijinkan sih, Dedi ingin nyekar sebentar ke makam bapak. Kebetulan nanti kita akan melewati kota P. Bagaimana menurut om dan tante?"
"Ya sudah tidak apa-apa, mumpung satu jurusan ini. Kan malah bagus bisa nyekar ke makam orangtua." Timpal tante sambil menyunggingkan senyum.
"Sudah yuk, makannya buruan. Biar tidak kesorean di jalan!" Ajak tante dengan tidak sabaran.
Aku segera menghabiskan sisa sarapan yang lumayan lezat. Setelah selesai breakfast, kami segera kembali ke kamar masing-masing.
Mengemas semua barang-barang dan memasukkannya ke bagasi mobil. Aku melihat sekilas ke arah bangunan hotel. Bulu kudukku serentak berdiri. Aku menerka-nerka, apakah bagunan hotel ini didirikan di atas tanah kuburan? Ataukah pernah terjadi peristiwa pembunuhan di salah satu kamarnya? Sehingga mengakibatkan aura di dalam hotel begitu horor dan misterius.
Aku segera memalingkan wajah dan masuk ke dalam mobil. Setelah dirasa tidak ada yang ketinggalan, kendaraan mulai melaju pelan meninggalkan area parkir. Dalam hati aku berjanji tidak akan pernah menginjakkan kakiku lagi di hotel tersebut.
***
Setelah menempuh perjalanan hampir tiga jam lebih, kendaraan kami akhirnya memasuki kota P. Di pertigaan jalan raya utama , suamiku membelokkan kendaraan ke arah kanan jalan. Hamparan sawah yang masih hijau menyambut kedatangan kami. Suasana pedesaan yang begitu damai dan asri.
"Om, tante kita mampir kesini sebentar ya. Dedi mau menemui Bulik dan nyekar ke makam bapak. Habis itu baru kita cari hotel di sekitar alun-alun kota."
"Boleh mas" sahut ayah Dwi sambil mengamati pemandangan keluar jendela.
Kini kendaraan telah memasuki pekarangan rumah yang begitu luas. Kediaman Bulik yang telah membesarkan dan merawat suamiku semenjak dari kecil.
Kami segera turun dari kendaraan dan langsung disambut oleh Bulik yang lagi duduk santai di teras.
"Loh, loh..!! Dedi?? Kenapa tidak memberi kabar lebih dahulu ke Bulik kalau mau datang??" Pekiknya terkejut.
Bulik segera menghampiri dan memeluk serta mencium pipi suamiku dan aku. Aku dan mas dengan hormat segera mencium tangan beliau.
"Maaf Lik kalau Dedi tidak memberi kabar terlebih dahulu. Soalnya mendadak. Oh iya Lik, ini Gendis putri Dedi. Dan ini om, tante dan sepupunya Ima"
"Oalah... ini cucuku toh!" Bulik segera membelai halus kepala putriku dan menciumi kedua pipinya.
"Montok dan lucu banget anakmu Ded!" Pekik Bulik sambil mengamati wajah Gendis.
"Ayo, silahkan masuk ke dalam" dengan ramah Bulik mempersilahkan kami memasuki kediamannya.
Tanpa ragu, kami pun segera melangkah memasuki ruang tamu yang cukup besar.
"Maaf ya kalau rumahnya sederhana begini. Maklum tinggal di kampung! Ayo silahkan duduk dan tunggu sebentar, aku buatkan minum dulu." Tutur Bulik merendah.
"Sama saja kok Lik" sahut tante.
Kami pun langsung duduk di sofa ruang tamu. Putriku yang tidak bisa diam segera berlarian ke halaman depan diikuti oleh Dwi yang begitu sigap menjaga adiknya.
Sambil tersenyum sumringah, Bulik melangkah menuju dapur. Tak lama kemudian beliau kembali seraya membawa teko dan gelas di nampan yang besar. Harum wangi teh melati semerbak memasuki indera penciumanku. Ku hirup dalam-dalam aromanya yang cukup tajam.
"Ayo diminum" pinta Bulik ramah.
"Ahh, sudah lama juga aku tidak mencicipi teh buatan Bulik. Terakhir aku main kemari saat aku sedang hamil besar." Pikirku menerawang sambil menyesap secangkir teh.
Setelah berbasa-basi dan memberitahu Bulik kalau tujuan kami sebenarnya ingin menjenguk beliau sekaligus menyekar ke makam ayah suamiku. Karena takut kesorean, aku, mas dan Gendis segera pamit menuju ke kompleks pemakaman yang letaknya lumayan jauh dari rumah Bulik.
Aku berjalan melewati sungai kecil dan pematang sawah. Rimbunnya pohon bambu yang berjejer rapi di sepanjang jalan menuju ke kompleks makam juga memanjakan indra penglihatanku. Awalnya aku melarang Gendis untuk ikut nyekar. Karena aku takut terjadi sesuatu pada putriku. Maklum saja, kuburan ayah mas berada di kompleks pemakaman yang suasananya terasa wingit. Namun suamiku bersikeras untuk mengajak Gendis agar nyekar ke makam kakeknya. Lagi-lagi aku harus mengalah dengan keputusan suamiku.
Setelah berjalan kaki kurang lebih tiga puluh menit, akhirnya langkah kami mulai memasuki area pemakaman. Gerbang utama berbentuk gapura yang sudah keropos dan berlumut menyambut kedatangan kami. Aroma bunga kamboja menebar harum yang khas. Di sekitar kompleks makam memang terdapat banyak pohon kamboja yang tumbuh subur dan berbunga lebat. Menambah aura sakral di sekitar area pemakaman.
Setelah mengucapkan salam, aku berjalan mengekor di belakang suamiku yang menggendong Gendis. Langkah kakiku mengikuti jalan setapak yang berada di area pemakaman. Beberapa kali kakiku tersandung oleh bebatuan. Tampaknya aku harus berhati-hati karena jalanannya dipenuhi lumut dan begitu licin. Akhirnya aku pun tiba di kuburan orangtua mas. Makam yang terletak dekat pohon rangon besar dan berada jauh di belakang kompleks pemakaman.
Tanpa membuang waktu, kami segera berdoa di makam yang begitu terawat dan bersih. Tampaknya Bulik selalu memperhatikan kebersihan makam kakaknya. Kuperhatikan netra putriku tampak menyisir area pemakaman. Matanya berkali-kali tertumbuk pada pohon besar dan kamboja yang terdapat di samping makam. Bola matanya mengerjap beberapa kali, sepasang matanya sepintas tampak berkilat tajam. Sesekali terdengar suara cekikikan dari bibirnya yang mungil. Tampaknya ada beberapa mahluk astral yang tengah mengajak putriku bercanda.
Setelah selesai berdoa, aku dan suamiku segera bergegas kembali ke rumah Bulik. Saat melintasi jalan kecil menuju gapura, tiba-tiba putriku menunjuk ke arah keranda mayit yang tergeletak tidak jauh dari arah gerbang pintu masuk.
"Bye..!!Dis ulang uyu! Ati-ati ya!" (Bye, Gendis pulang dulu. Hati-hati ya) ucapnya sambil ternyum manis.
Semilir angin membelai wajahku dan membawa aroma bunga kenanga. Aku dan mas terdiam sejenak. Kami mematung, saling berpandangan. Tanpa di komando, aku dan suamiku segera melangkah dengan cepat meninggalkan area pemakaman. Sepanjang perjalanan menuju arah pulang, aku terus menunduk dan berjalan secepat mungkin. Aku tak berani berkata sepatah katapun.
Setelah berjalan cukup jauh, derap langkahku memasuki pekarangan rumah Bulik. Dengan terengah-engah, aku dan mas segera beristirahat, meluruskan kaki di teras. Kulihat jam yang melingkar di tangan kiri menunjukkan waktu pukul empat sore.
"Mas, sekarang sudah pukul lima. Apa tidak sebaiknya kita segera pamit dan mencari hotel di alun-alun kota? Ima takut kalau kemalaman di jalan, Gendis akan menjerit-jerit ketakutan seperti kemarin malam."
"Ya sudah, ayo masuk sebentar dan pamit sama Bulik" ajak suamiku
Kami mengucapkan salam dan memasuki ruang tamu. Ku lihat keluarga Dwi tengah berbincang-bincang dengan Bulik.
"Lik, maaf sepertinya Dedi harus segera melanjutkan perjalanan kembali" ujar mas dengan raut wajah merasa bersalah.
"Loh, kok cepat sekali? Kenapa tidak menginap disini saja?" Pinta Bulik tulus.
"Nggak bisa Lik, kapan-kapan saja Dedi, Ima dan Gendis menginap disini lagi ya"
Setelah tawar menawar dengan Bulik, akhirnya dengan berat hati beliau meluluskan permintaan suamiku. Bukannya apa-apa, kami tidak bisa menginap di rumah Bulik karena tidak ada kamar yang kosong. Lagi pula rasanya tidak enak jika harus merepotkan Bulik dengan keberadaan keluargaku. Kami semua segera berpamitan kepada Bulik. Beliau mengantar kepergian kami sampai di depan jalan rumahnya. Kendaraan pun segera bergerak menuju ke alun-alun kota untuk mencari tempat bermalam.
Gerimis mulai turun membasahi bumi. Perlahan kabut memenuhi jalanan, sehingga mengurangi jarak pandang. Suamiku segera menyalakan lampu kabut di jalanan yang begitu sunyi tanpa ada satupun kendaraan yang melintas.
"Hati-hati mas. Santai saja, tidak usah ngebut!" Seru ayah Dwi mengingatkan suamiku.
"Iya om" jawab mas sambil terus fokus menyetir.
Gendis mulai terlelap dalam dekapanku. Aku merapatkan selimut ke tubuhnya, berjaga-jaga agar ia tidak menggigil kedinginan. Suasana di dalam kendaraan terasa hening. Hujan membuat kami semua larut tenggelam ke dalam pikiran masing-masing.
"Mas..! Mas..! Coba jalannya lebih pelan lagi" suara om memecah kesunyian.
"Memangnya kenapa om?" Tanya mas sambil menurunkan laju kecepatan kendaraan.
"Lihat itu di depan, sepertinya ada orang sedang mengayuh sepeda" Tunjuk om ke arah jalan raya.
Serentak aku dan tante yang duduk di kursi tengah segera melihat ke arah depan. Di tengah kabut yang sedikit memudar, tampaklah sesosok pria berpakaian serba hitam dan memakai topi caping khas petani. Lelaki berbaju gelap itu tampak menggayuh sepeda ontel yang di samping kanan kirinya terdapat dua keranjang besar terbuat dari rotan. Ia terus menggowes sepedanya membelah rintik hujan yang semakin lama bertambah deras.
Bersambung
Comments (0)