Part. 30
LIA
LIA
"Assalamu'alaikum.. Teh..!.. Ndis..!!" Pamit adikku sambil menggas motornya melaju meninggalkan pekarangan rumah.
"Wa'alaikumsalam, hati-hati di jalan An!!' Teriakku dari balik pagar seraya mengamati lekat-lekat wajah Gendis yang tersenyum penuh misteri.
Aku segera mengunci semua pintu dan masuk ke dalam rumah. Ketika melewati ruang tamu, indra penciumanku mencium wangi yang begitu familiar menyenangkan. Aroma lembut bunga sedap malam! Seharusnya aku ketakutan dan bergetar, namun sepertinya aku mulai terbiasa dengan kehadirannya.
Aku berdiri terpaku sambil menatap ke seluruh penjuru ruangan. Berusaha mempertajam indra penglihatanku. Namun usahaku sia-sia, sosok itu tidak mau menunjukkan wujudnya kepadaku. Mungkin beliau tidak mau membuatku takut atau mungkin belum saatnya bagi kami untuk berjumpa.
Jari Gendis menunjuk ke pojokan ruangan dan mulai menyerukan sebuah kata "IBUUUUU....!!" Ujar putriku sambil memamerkan lesung pipitnya.
"Tepat dugaanku! Ternyata sosok Ibu yang lagi bertandang ke rumah! Entah beliau sedang ada perlu dengan putriku ataukah berusaha memberiku petunjuk kalau akan terjadi sesuatu yang menimpa keluargaku?"
Aku meneruskan langkah menuju ke kamar. Hatiku berdoa semoga malam ini tidak ada kejadian aneh yang menimpa keluargaku. Jiwa ragaku begitu lelah dengan semua peristiwa tidak masuk akal yang betubi-tubi menimpa keluargaku. Saat ini aku hanya ingin bisa tidur nyenyak tanpa mendapat gangguan dari mereka.
***
Eehh.. Ehhh.." tendangan Gendis ke tubuhku berhasil membuatku terbangun.
Kulihat anakku sedang mengigau. Kelopak mata Gendis yang terpejam rapat, tampak berkedut beberapa kali. Raut wajahnya terlihat tegang dan gelisah.
"Tumben anakku ngelindur. Apa ia sedang bermimpi tentang kejadian di tempat makan?" Aku mengelus kepala putriku berusaha menenangkannya dari mimpi buruk.
Aku terkesiap. Kening anakku terasa panas! Segera kuraba tangan, perut dan telapak kakinya. Semuanya terasa begitu panas!!
Tanpa berpikir panjang aku berlari menuju lemari P3K di dekat ruang tv. Kuambil alat pengukur suhu tubuh dan obat penurun panas. Setelah kututup lemarinya, secepat kilat aku kembali ke kamar.
Segera kutaruh thermometer digital di ketiak kiri putriku yang terus meracau dan tubuhnya tampak menggigil kedinginan.
"Biippp" Suhu yang tertera mencapai 41°c.
"Ya Allah, kenapa suhu tubuh putriku meningkat terlalu tinggi?"
Aku langsung teringat pesan Pak haji kalau aku tidak boleh panik ketika Gendis mengalami demam tinggi. Bukankah menurut beliau sakit panas yang mendera putriku merupakan petanda akan bertambah naiknya kemampuan pada diri Gendis?
Aku menghela nafas panjang dan memejamkan mataku. Berusaha menenangkan diriku dan menghilangkan segala pikiran buruk.
"Jangan panik Ima.. jangan panik! Bismillah semoga Allah selalu menjaga dan melindungi ankku!" Ucapku berulang-ulang pada diriku sendiri.
Setela merasa lebih tenang, aku segera membangunkan Gendis.
"Ndis sayang, bangun sebentar nak. Minum susu dulu yuk."
Tidak ada respon dari anakku.
"Ndis.. ndis.. bangun sayang" pintaku sambil mengusap keningnya yang mulai dibanjiri peluh keringat dingin.
"Ma...!! Maa...!!" Racaunya memanggil namaku.
"Iya ini mama sayang. Gendis nyusu dulu ya terus minum obat?" Tatapku lembut ke wajahnya yang terlihat begitu pias.
Dengan perlahan aku memasukan botol susu ke bibir putriku yang tampat kering. Alhamdulillah Gendis langsung merespon dot yang kuberikan. Ia mulai menyedot dengan lahap susu pemberianku.
"Maaaaaa...." rintihnya lirih sambil membuka perlahan matanya yang terlihat kuyu.
"Iya, mama disini. Bangun dulu yuk Ndis. Badan Ndis tiba-tiba panas jadi harus segera minum obat."
Aku segera mendudukkan posisi tubuh anakku dan memberinya obat penurun panas.
Tanpa ada perlawanan, Gendis langsung menelan obat yang kuberikan.
"Ada apa Ma? Kok tengah malam begini berisik banget?" Suamiku terbangun karena mendengar suaraku yang terus mengajak Gendis berbicara.
"Ini mas, Gendis sakit. Badannya mendadak panas lagi. Tadi sudah aku ukur dan suhu tubuhnya 41°c. Makanya buru-buru aku kasih susu dan obat penurun panas."
Dengan raut wajah khawatir suamiku langsung meraba kening putrinya.
"Iya Ma!! Kenapa tiba-tiba badan Gendis terasa panas begini! Apa malam ini langsung kita bawa saja ke RS?" Tanya mas dengan panik.
"Jangan dulu mas, sebaiknyakita tunggu saja sampai besok pagi. Kalau panasnya tidak juga reda, baru kita langsung bawa Gendis ke RS. Lagi pula bukannya Pak haji sudah mewanti-wanti kita kalau Gendis akan selalu mengalami panas tinggi?"
"Iya juga ya" gumam suamiku sambil menggenggam jemari putrinya.
"Mas tidur saja biar aku yang menjaga Gendis. Kalau nanti ada apa-apa, aku janji langsung bangunin mas" aku memberi usul ke suamiku.
"Ya sudah kalau begitu. Mas tidur lagi ya! Kalau panasnya semakin tinggi, tolong langsung bangunin mas biar kita segera ke RS!"
Aku menyunggingkan senyum petanda setuju dengan usul suamiku.
Setelah suamiku kembali ke alam mimpi. Aku segera menuju ke dapur dan menyiapkan air hangat untuk mengompres putriku.
Semalaman aku tidak tertidur. Aku menjadi ibu siaga yang selalu mengompres kening, leher dan ketiak Gendis berharap agar demamnya segera turun. Aku juga meraba keningnya setiap selesai mengompres berharap agar suhu tubuhnya kembali normal.
Di sela begadangku, aku meraih kedua tangan putriku dan mengecup keningnya "Ya Allah, tolong sembuhkan Gendis. Lekas pulihkan kesehatan putriku. Berikanlah ia kesehatan dan kesembuhan. Kesembuhan yang tidak pernah meninggalkan penyakit." Doaku tulus untuk anakku tercinta.
***
Sinar mentari pagi menerobos masuk melewati sela-sela jendela kamarku. Aku bersyukur dan bisa bernafas lega karena menjelang subuh suhu putriku sudah kembali normal.
Aku menyunggingkan senyum manis di bibirku yang tipis. Pagi ini Gendis terlihat lebih aktif dan ceria dari biasanya. Seolah-olah semalam ia tidak pernah terserang panas tinggi.
"Ndis, mama mau bersihin lantai atas dulu. Kalau Gendis butuh apa-apa tinggal panggil ayah. Ayah lagi membersihkan teras."
Sambil memeluk boneka kucing, putriku terus mengedot dari botol susunya. Aku menciumi pipinya yang semakin hari bertambah gembul seperti bakpao.
"Ndis di kamar ya. Istirahat! Jangan main keluar rumah dulu" ucapku sambil mengelus lembut rambut putriku.
Aku beranjak dari tempat tidur dan berjalan menuju jendela kamar.
"Mas kalau perlu sesuatu, aku di lantai atas! Gendis lagi di kamar sendirian!" Teriakku ke suamiku dari balik jendela.
Suamiku mengacungkan jempolnya sambil tersenyum tipis dan terus membersihkan teras.
Aku segera menuju ke lantai dua. Saat aku sedang merapikan ruangan, aku dikejutkan dengan teriakan suamiku yang memanggil nama putriku!!
"NDiS, GENDIS LAGI BICARA SAMA SIAPA?" Teriakan mas yang menggelegar terdengar sampai ke telingaku.
"Gendis?? Apa yang terjadi sama putriku!!!"
Secepat kilat aku segera berlari menuju ke lantai satu. Tak kupedulikan anak tangga yang terasa licin dan curam. Pikiranku saat itu hanya satu! Putriku!
Dengan nafas terengah-engah, kulihat suamiku sedang berdiri mematung. Wajahnya tampak mengamati sesuatu di dalam sana. Aku segera menghampiri suamiku dan menepuk pundaknya perlahan.
"Ada apa mas, kok sampai teriak-teriak begitu?" Tanyaku sambil memperhatikan ekspresi wajahnya yang terdiam membisu.
Mas memberiku kode dengan ekor matanya agar aku melihat ke kamar.
Perlahan aku berjalan ke arah pintu. Pikiran dan hatiku campur aduk. Rasa penasaran begitu membuncah di dalam dada.
Dengan mata telanjang, aku dan suamiku melihat Gendis dengan posisi berdiri di atas tempat tidur sedang tarik-tarikan handphone dengan sesuatu yang tak terlihat.
Wajah putriku terlihat gusar dan memerah menahan marah.
"ANGANNNN.....!!" (Jangan) Bentaknya kasar.
"Angan ambil andphoneku!" (Jangan ambil handphoneku)
"akal..!! akal..!!!" (Nakal. Nakal) Matanya yang tajam menatap sinis ke udara kosong.
Pandanganku terkunci pada mata anakku. Matanya begitu memancarkan aura kebencian luar biasa.
"Iiihhh .....!!! Kakak akal!! Dis ga cuka!!" (Kakak nakal. Ndis nggak suka)
"Cana kakak abil andphone kakak cendili! Angan yang ini! Ini unya mama aku!!" (Sana kakak amb handphone kakak sendiri. Jangan yang ini. ini punya mama aku)
"Dis gak cuka alau kakak akal! Anti Dis ilangin Allah nih!" (Ndis nggak suka kalau kakak nakal. Nanti Gendis bilangin Allah nih)
Aku memutar kedua bola mataku saat mendengar ucapan Gendis yang menyebut nama Penciptanya. Aku berjalan perlahan menghampiri putriku yang tengah dilanda emosi membuncah sampai ke ubun-ubunnya.
"Ndis, tolong lihat ke mama sebentar nak" pintaku pelan sambil merengkuh tubuhnya dari belakang.
Gendis memalingkan wajahnya dan menatap mataku.
"Apa ma?"
"Gendis kenapa?"
"Itu... kakak tuh!!" Ujarnya sambil menunjuk ke dinding kamar yang kosong.
"Kakak siapa Ndis?" Netraku berusaha mengamati sesuatu yang tidak mungkin bisa kulihat.
"Kakak itu ma!! Kakak aju pink!" (kakak baju pink)
"Memangnya saat ini ada kakak baju pink di kamar?"
"He-eh ma" angguknya dengan rambut bersimbah keringat.
"Ngapain kakak kemari?"
"Au ebut andphone Dis!! Dis gak cuka" (Mau rebut handphone Gensis. Gendis nggak suka) tatapnya dengan wajah memelas.
Aku menghela nafas berat. Sejujurnya aku begitu kesulitan jika menghadapi situasi seperti ini. Aku tidak mengetahui apa yang sedang putriku lihat. Aku hanya bisa menerka-nerka wujud mereka dari petunjuk yang Gendis berikan.
Namun sebagai seorang ibu, aku harus bisa memberitahu Gendis situasi yang sedang ia lihat dan hadapi. Tentunya dengan menggunakan bahasa yang tepat. Karena usia putriku masih terlalu kecil untuk diajak berbicara layaknya orang dewasa.
"Sini sebentar sayang, mama mau ngobrol sama Gendis" segera kupangku dan kupeluk tubuh putriku dengan hangat.
Sedangkan suamiku dengan cermat terus berdiri di ambang pintu mengamati aku dan Gendis.
"Memangnya kakak sering main kemari ya?"
"Iya ma" jawabnya sambil terus menatap ke arah dinding kamar.
"Ngapain kakak kemari?"
"Au ain cama Dis. Au ambil andphone mama!! Dis ngak cuka!! Diss alah!!"
(mau main sama Gendis. Mau ambil handohone mama. Ndis nggak suka. Ndis marah) Sungutnya sambil mengapit kedua tangannya di depan dada.
Aku membelai lembut rambut hitam legam putriku. Sambil kucium ubun-ubunnya.
"Mama bisa minta tolong sama Ndis nggak? Kalau kakak datang lagi ke rumah, tolong kakak disuruh pergi saja ya? Bisa nggak Ndis?"
Gendis tampak terdiam sejenak. Sejurus kemudian ia mulai menjawab pertanyaanku.
"He-eh, tal Dis ilang itu ma!" (Ntar Gendis bilang gitu ma)
"Terima kasih ya Ndis. Anak mama itu anak yang soleha, mau mendengar nasehat mama" ujarku sambil mengelus pipinya yang halus.
"Ya sudah, sekarang Ndis main sendiri lagi ya. Kalau kakak baju pink datang lagi, tolong panggil mama ya nak."
"Ma, ma..!!" Ujarnya sambil menarik tanganku.
"Apa sayang?"
"Kakak cudah elgi" (kakas sudah pergi) Tunjuknya ke arah dinding di bawah jendela kamar .
"Oooh... jadi kakak perginya lewat situ?" Jariku ikut menunjuk ke arah yang Gendis tunjukkan
"Iya ma, intu!! Dicitu intu umah kakak!"
(iya ma, pintu. Disitu pintu rumah kakak)
Aku tertegun.
Aku kembali teringat akan ucapan alm. Eyang. Beliau pernah berkata kalau ada sepasang anak kecil yang berdiam di depan kamarku. Apakah kakak berbaju pink merupakan salah satu mahluk yang dimaksudkan oleh Eyang?
Saat aku sedang bertanya dalam hati, suamiku menghampiri kami dan segera menggendong Gendis.
"Ndis, dari pada Gendis main di kamar, mending temani ayah di teras yuk." Bujuk mas ke Gendis.
Dengan semangat, Gendis langsung berteriak "Aaauu yah." (mau yah)
Mas langsung mengangkat tubuh mungil Gendis dan memberikan kecupan di kedua pipinya. Putriku Cumiik kegirangan. Mereka tertawa bahagia sebelum tubuhnya menghilang di balik pintu ruang tamu.
Aku hanya menggelengkan kepala melihat tingkah lucu orang yang kusayangi.
"Ndis.. terima kasih! Kehadiranmu telah membuat hidup mama dan ayah penuh warna!" Tatapku berbinar penuh cinta dan rasa syukur.
***
Aku melihat jam di dinding ruang tv yang berdetak perlahan. Waktu hampir menunjukkan pukul dua belas malam. Namun aku masih berkutat di ruang tv menemani putriku yang sedang asik membaca buku.
Gendis.. dari semenjak lahir sampai sekarang, dirinya sangat sulit untuk tidur cepat! Jika kuamati, semakin malam maka staminanya akan semakin full. Ia seperti tidak pernah merasa lelah, apalagi mengantuk! Sudah berbagai usaha aku lakukan agar membuatnya bisa tertidur lebih cepat. Namun semuanya sia-sia! Tidak ada yang berhasil!!
Aku menunduk dan menggumam pelan, "kapan putriku bisa tidur normal seperti anak kecil lainnya?"
"Ndis.. tidur yuk! Sudah malam nih" pintaku pada Gendis yang sedang fokus mengamati gambar berbagai macam hewan.
Putriku tidak menggubris ucapanku. Ia tampak tenggelam di dunianya sendiri sampai tak mendengar ucapanku! Sesekali matanya melihat ke samping kanan dan berbisik pelan. Seolah-olah ada seseorang yang sedang menemaninya membaca.
"Ya sudah, mama masuk ke kamar ya!!" Godaku dengan harapan Gendis mau mengikutiku langkah kakiku.
Sekali lagi harapanku sia-sia. Gendis tetap bertahan duduk di atas karpet ruang tv sambil membolak balik buku yang tergeletak di lantai.
Dengan menahan rasa kantuk luar biasa, aku melangkah gontai ke dalam kamar. Meninggalkan putriku seorang diri atau lebih tepatnya membiarkan putriku berbicara dengan mahluk tak kasat mata yang sedang mendampinginya membaca.
"Ma, Gendis mana? Sudah tengah malah kok belum juga masuk ke kamar?" Tanya mas sambil mengalihkan pandangan dari laptop yang berada di pangkuannya.
"Mas lihat sendiri aja anaknya lagi ngapain di ruang tv!"
"Emangnya Gendis lagi ngapain?" Suamiku malah balik bertanya ke diriku.
"Sudah, kamu cek saja sendiri!" Sahutku dengan wajah masam.
Ia pun beranjak dari peraduan dan mengintip dari pintu kamar. Kudua alis suamiku bertaut dan muncul garis halus di keningnya.
"Ma..!! Ma..!!! Itu Gendis lagi baca buku sama siapa? Kok sepertinya ada yang sedang ia ajak bicara?" Kulihat raut wajahnya begitu kebingungan.
Aku menghampiri suamiku dan bersandar di tubuhnya yang tegap.
"Entah mas, Ima juga bingung!"
"Mas jadi khawatir sama Gendis. Sikapnya semakin hari semakin tidak masuk akal. Mas takut kalau dibiarkan seperti ini, Gendis jadi lebih tertarik berbicara dengan mereka daripada dengan kita!"
Aku hanya terdiam mendengar ucapan suamiku. Sesungguhnya di lubuk hatiku yang paling dalam, aku juga mulai merasakan hal yang suamiku rasakan.
"Ma..!! Yah..!!" suara Gendis membuyarkan khayalanku.
"Eehh.. anak mama. Sudah selesai baca bukunya?"
"Cudah maa!" (sudah ma) Jawabnya sambil berlari menuju ke kamar.
"Ya sudah kalau sudah selesai. Sekarang kita tidur ya!"
Gendis menggeleng pelan, petanda dirinya belum mengantuk.
"Sudah biarin saja kalau Gendis masih mau bermain sendirian. Yang penting pintu kamar sudah dikunci." Sahut mas sambil merebahkan dirinya di atas ranjang.
Aku mengikuti saran suamiku. Perlahan aku merebahkan tubuhku di atas pembaringan. Membiarkan Gendis yang tampak asik bermain sendirian.
Lambat laun mataku terasa berat. Aku memejamkan kelopak mataku dan menuju ke alam mimpi.
"Krreeeettt...!!! Kreeeettt..!!!"
Indra pendengaranku menangkap suara aneh. Seperti suara gesekan benda tajam ke atas kayu. Dengan menahan rasa kantuk yang luar biasa, aku berusaha membuka mataku. Namun begitu berat!
Perlahan kubuka kembali kedua kelopak mataku, dengan samar aku melihat kalau Gendis sedang berdiri di samping lemari jati. Jemarinya tampak tengah menggoreskan sesuatu ke pintu lemari.
Aku berusaha memaksa tubuhku untuk terbangun dan melihat apa yang sedang putriku lakukan. Namun usahaku tidak membuahkan hasil. Tubuh dan mataku menolak untuk bekerja sama!
Hatiku berbisik "Biarkan saja Gendis. Selama ia anteng dan tidak menjerit-jerit ketakutan, kamu tidak perlu merisaukan apa yang sedang ia lakukan!" Hembusan nafasku terasa pelan dan teratur. Mataku kembali tertutup rapat. Aku kembali melanjutkan mimpiku yang sempat tertunda.
***
Keesokan paginya, setelah mas pergi kerja. Aku segera membereskan mainan Gendis yang berserakan di lantai kamar.
Saat sedang memunguti mainan dan memasukkannya ke kotak mainan. Mataku tertuju ke lantai di samping lemari pakaian.
"Kenapa begitu banyak serbuk kayu bertebaran di lantai?" Pikirku penuh tanda tanya.
Sejenak kemudian aku tersadar, kalau semalam Gendis tampak melakukan sesuatu di pintu lemari. Segera kuamati lemari bajuku, berusaha mencari sesuatu yang tampak mencurigakan.
Mataku terbeliak! Darahku berdesir hebat!
Di dinding lemari kayu jati terukir sebuah nama, tepat dimana semalam posisi putriku berdiri.
"LIA....!!" Aku terperangah melihat tulisan putriku.
"Kenapa Gendis yang masih berusia satu tahun bisa menulis nama Lia di lemari kayu? Apa Lia yang mengajari putriku menulis?"
Aku mengggigit bibir bawahku. Hatiku mulai diselimuti rasa was-was.
"Maaaaa....!!!" Teriakan Gendis membuatku terperanjat.
"Iya Ndis. Kenapa Gendis memanggil mama?"
"Kakak ana ma?" (kakak mana ma)
"Kakak siapa lagi Ndis?'
"Kakak... itu..!" Gendis menghampiriku dan menunjuk ke tulisan yang ia buat semalam.
"Kakak Lia??" Tanyaku pada Gendis.
"Iya ma...!!!"
"Ndis.. Gendis semalam nulis ini?"
"Iya" sahutnya sambil menatap ke jendela kamar.
"Siapa yang ngajarin Gendis menulis di lemari?
"Kakak ma!!"
"Gendis menulisnya pakai apa?"
Putriku berlari dan mengambil penggaris patah dari lemari pakaiannya.
"Ini ma...!" Tangannya menyerahkan penggaris kecil ke tanganku.
"Ya Allah, alhamdulillah tangan anakku tidak terluka karena sudah menulis memakai penggaris yang ujungnya begitu runcing!"
"Ndis..!! Kakak Lia kah yang ngajarin Gendis menulis pakai penggaris?"
"Iyaaaaa..!!!" Teriaknya.
"Lia... siapa lagi dia? Dari mana asalnya?"
Iseng--iseng, aku upload foto tulisan Ndis di status whatsapp.
"Tiinnng.. ting..tingg" bertubi-tubi pesan masuk ke ponselku.
"Mba Ima.. itu tulisannya Gendis?" Tanya Mama Rafi.
"Iya mama Rafi"
"Aku kok melihatnya spooky ya? Siapa yang ngajarin Gendis menulis nama LIA?"
"Kata Gendis, Lia nya sendiri yang ngajarin dia."
"Aduh mama Gendis!! Tolong lebih diperhatikan lagi Gendisnya! Jangan sampai terlalu sering bergaul sama mereka." Nasehat sepupuku.
"Iya mama Rafi. Terima kasih untuk perhatiannya." Jawabku sekenanya.
Kubaca satu-satu semua pesan yang masuk ke ponsel. Mayoritas teman dan keluargaku keheranan dan bilang takut melihat goresan tulisan Gendis yang terlihat ganjil dan meyeramkan.
Aku hanya tersenyum membaca pesan dan komentar mereka. Bagaimana jika mereka yang berada diposisiku? Saat pikiranku sedang berandai-andai, aku dikagetkan dengan teriakan Gendis.
"MAAAA.....!!!" Bentaknya ke arahku
"Apa Ndis? Kok teriak-teriak begitu?"
"Ndiss cebel!!! Cebell.....!!!!" (Ndis sebel, sebel)
"Ndis sebel kenapa?'
Sambil terus memainkan mobil fireman, Gendis terus ngedumel pelan.
"Ndis MALAH...!!! (Ndis marah) tuturnya dengan bibir cemberut.
"Ndis...!! Ndis kesal dan marah sama siapa?" Aku kembali dibuat bertanya-tanya oleh ucapannya.
"OM AAN...!!! Ndis malah cama om Aan!!!"
(Ndis marah sama om Aan)
"Loh kenapa Ndis marah sama om Aan? Om Aan kan baik dan sayang sama Gendis?"
Tangan putriku mulai bersidekap di depan dada dan mulutnya ia monyongkan ke depan.
"Om Aan tuh jaat ma..!! Aat..!!"
(Om Aan tuh jahat ma. Jahat)
"Dis ga cuka alau om Aan jaat..!! Ndis malah cama om Aan...!!
(Ndis nggak suka kalau om Aan jahat. Ndis marah sama om Aan).
"Memangnya om Aan kenapa? Kok Gendis tau-tau marah dan benci sama om Aan?"
Putriku terdiam. Sepasang bola matanya mulai bergerak seperti tengah mengamati suatu obyek di dinding yang terlihat kosong. Tubuh Gendis perlahan menegang, matanya melotot tajam penuh kebencian!!
Bersambung
Comments (0)